Ketika Kemesraan Tak Lagi Menjadi Privasi

Ketika Kemesraan Tak Lagi Menjadi Privasi

Ada sebuah keresahan yang mungkin dirasakan banyak orang tua dan keluarga muslim ketika melihat pasangan muda-mudi yang telah menikah begitu sering memamerkan kemesraan di media sosial.

Tentu, mencintai pasangan adalah hal yang indah. Menyayangi suami atau istri adalah bagian dari fitrah dan bahkan bisa bernilai ibadah ketika dilakukan dengan cara yang Allah ridai. Namun, apakah semua bentuk kemesraan harus dipertontonkan kepada publik?

Bukankah ada hal-hal dalam rumah tangga yang justru menjadi semakin indah ketika disimpan sebagai rahasia antara suami dan istri?

Media sosial hari ini membuat batas antara ruang pribadi dan ruang publik semakin tipis. Foto berpelukan, kata-kata romantis, panggilan sayang, hingga berbagai bentuk kemesraan dengan mudah dikonsumsi oleh ribuan bahkan jutaan pasang mata.

Yang mengkhawatirkan bukan sekadar persoalan "boleh atau tidak boleh", tetapi apa dampaknya bagi hati, bagi pendidikan anak-anak, dan bagi budaya malu dalam masyarakat.

Allah mengajarkan pentingnya menjaga pandangan dan kehormatan:

«قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ»

«“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.”
(QS. An-Nur: 30)»

Islam tidak hanya mengajarkan halal dan haram, tetapi juga mengajarkan adab, haya' (rasa malu), dan menjaga kehormatan.

Pasangan yang sudah halal tentu berbeda dengan pasangan yang belum menikah. Tetapi halal bukan berarti semua yang halal harus dipertontonkan.

Ada sesuatu yang bernama iffah—menjaga kehormatan diri. Ada sesuatu yang bernama haya'—rasa malu yang menjadi bagian dari iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ»

«“Malu itu bagian dari iman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Maka, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kebahagiaan rumah tangga harus selalu mendapatkan pengakuan dari dunia maya?

Bukankah ada kebahagiaan yang justru terasa lebih tulus ketika tidak diketahui banyak orang?

Tidak semua pelukan harus menjadi foto.
Tidak semua kata sayang harus menjadi status.
Tidak semua kebahagiaan harus mendapatkan "like".
Dan tidak semua cerita rumah tangga harus menjadi konsumsi publik.

Terlebih bagi pasangan muda. Mereka bukan hanya sedang membangun rumah tangga, tetapi juga sedang menjadi contoh bagi adik, keponakan, anak-anak, dan generasi di sekitarnya.

Jangan sampai generasi berikutnya belajar bahwa cinta harus selalu dipamerkan agar dianggap nyata.

Padahal cinta yang matang justru mampu menjaga batas.

Cinta bukan hanya tentang menunjukkan rasa sayang, tetapi juga tentang menjaga kehormatan pasangan.

Cinta bukan hanya tentang membuat orang lain tahu bahwa kita bahagia, tetapi tentang memastikan bahwa kebahagiaan itu benar-benar tumbuh di dalam rumah.

Dan mungkin, rumah tangga yang paling indah bukanlah yang paling sering terlihat di layar, tetapi yang paling banyak menghadirkan ketenangan, kasih sayang, kesetiaan, dan keberkahan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Jadikan media sosial sebagai tempat berbagi kebaikan, bukan tempat mempertontonkan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari ruang privat suami dan istri.

Sebab ada cinta yang layak diketahui dunia, tetapi ada pula cinta yang jauh lebih indah ketika cukup Allah yang mengetahuinya

Tulisan ini disusun AI