Ketika lomba hiburan membuat hati resah

Ketika Lomba Hiburan Membuat Hati Resah

Ada fenomena yang akhir-akhir ini mungkin terlihat sederhana: lomba dibuat semakin seru, lucu, dan mengundang tawa. Peserta diminta mengenakan pakaian yang menyerupai lawan jenis, misalnya laki-laki memakai daster, dihias menyerupai perempuan, kemudian mengikuti permainan dengan mata tertutup.

Sebagian mungkin menganggapnya hanya hiburan. “Namanya juga lomba, yang penting seru-seruan.”

Namun, sebagai seorang Muslim, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada hati: apakah semua yang membuat kita tertawa dan ramai-ramai itu otomatis baik dan pantas dilakukan?

Islam mengajarkan bahwa hiburan bukan sesuatu yang harus dihapus. Kita boleh bergembira, bercanda, bermain, dan membuat suasana menjadi menyenangkan. Tetapi kegembiraan tetap memiliki batas. Jangan sampai demi mengejar tawa sesaat, kita mengabaikan adab, kehormatan diri, dan tuntunan agama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»

“Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa persoalan menyerupai lawan jenis bukan sekadar masalah pakaian atau permainan, tetapi menyangkut identitas dan adab yang perlu dijaga.

Yang lebih mengkhawatirkan, ketika hal seperti ini dilakukan di ruang publik, direkam, kemudian disebarkan di media sosial, sesuatu yang awalnya hanya dianggap sebagai candaan dapat berubah menjadi tontonan dan contoh yang ditiru banyak orang.

Bukan berarti kita anti-lomba. Bukan pula berarti kita tidak boleh tertawa dan bersenang-senang.

Justru kita ingin menghadirkan hiburan yang tetap menghadirkan keberkahan.

Kita bisa membuat lomba yang lucu tanpa harus mempertukarkan pakaian laki-laki dan perempuan. Kita bisa membuat permainan yang seru tanpa merendahkan peserta. Kita bisa tertawa bersama tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang kita yakini.

Karena sebagai seorang Muslim, ukuran keseruan bukan hanya “berapa banyak orang yang tertawa?”, tetapi juga:

“Apakah Allah ridha dengan apa yang kita lakukan?”

Mari kita belajar lebih bijak dalam membuat kegiatan. Jangan sampai sesuatu yang awalnya hanya ingin menciptakan kebersamaan justru menjadi sebab kita menormalisasi hal-hal yang seharusnya kita jaga.

Bersenang-senanglah, tetapi tetap beradab.
Bercandalah, tetapi tetap dalam batas syariat.
Buatlah lomba yang seru, tetapi jangan sampai kehilangan malu dan kehormatan.

Sebab bagi seorang Muslim, kesenangan sesaat tidak sebanding dengan keberkahan yang ingin kita jaga.

Semoga setiap kegiatan yang kita lakukan—termasuk lomba dan perayaan kemerdekaan—bukan hanya menghadirkan tawa, tetapi juga menghadirkan nilai, persaudaraan, dan keberkahan dari Allah. 🤲

Tulisan disusun AI

Postingan populer dari blog ini

Ketika Kemesraan Tak Lagi Menjadi Privasi